Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Debat Terakhir: Ekonomi,Penentu Pilihan Pemilih Rasional


Acara debat kedua antara Capres 01 Joko Widodo (kiri) dan Capres 02 Prabowo Subianto di Jakarta, Minggu malam, 17 Februari 2019. (Foto: dok).

Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan menggelar debat capres-cawapres putaran terakhir pada 13 April 2019 nanti. Ekonomi akan menjadi isu utama. Debat ini dinilai strategis karena dapat menarik minat pemilih yang belum memiliki keputusan.

YOGYAKARATA,NUSANTARA7-Lembaga survei Indikator Politik Indonesia mencatat, setidaknya ada 16,9 persen swing voter dan 7,2 persen pemilik suara belum menentukan pilihan. Secara total, ada 24,1 persen atau sekitar 46 juta potensi suara yang bisa direbut pasangan calon untuk menjadi pemenang pilpres 2019 ini.

Sisa pemilik suara ini, mayoritas adalah pemilih rasional yang memutuskan dukungan berdasar sejumlah pertimbangan. Salah satunya adalah debat pasangan calon. KPU sendiri akan menggelar seri terakhir debat akhir pekan ini, dengan tema bahasan Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial, Keuangan dan Investasi, serta Perdagangan dan Industri.

Besarnya pengaruh debat bagi pemilih rasional diakui anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Ferry Mursyidan Baldan.

“Kalau kita begini, memandang debat dari awal, bahwa ini adalah sebuah ruang kampanye, yang punya daya sebar meluas karena disiarkan oleh TV pool. Sejak awal, makanya kita mendesain betul debat pertama, kedua, ketiga, keempat kelima itu adalah satu rangkaian menuju peak. Keseluruhannya, kita meyakini bahwa pemilih yang belum menentukan pilihannya, banyak merujuk pada debat,” ujar Ferry kepada VOA.

Mantan Menteri Agraria dan Tata Ruang di era awal kabinet Jokowi ini mengaku, di internal BPN terdapat kajian soal rujukan para pemilih. Debat ternyata cukup mempengaruhi kecenderungan dukungan pemilik suara.

Karena itulah, BPN kata Ferry serius mempersiapkan materi debat, termasuk isu dan penampilan paslon 02.

“Kita sangat serius menghadapi debat itu. Konten dan ekspresi dari paslon itu menjadi penting, karena ini menjadi sumber rujukan bagi pemilih rasional. Kita mendesain ini,” tambah Ferry.

Ekonomi Tema Krusial

Dosen di Departemen Politik dan Pemerintahan, Universitas Gadjah Mada, Wawan Mas’udi berpesan, kedua paslon harus sangat serius menggarap debat terakhir. Ekonomi, investasi dan keuangan dan bahasan yang saat ini menjadi titik panas perbincangan masyarakat.

Wawan mengatakan, isu-isu politik identitas pada awalnya memang menyita perhatian pemilih. Tetapi seiring waktu, melalui bahasan di kalangan pemilih sendiri tema itu selesai dengan sendirinya. Titik panas kedua yang kini menyala adalah ekonomi. Karena isu ini justru menjadi perhatian utama dari kelompok pemilih rasional.

“Harus dipahami bahwa debat terakhir ini bisa berpotensi menggeser paraswing voter ini. Ini kan sebuah titik panas tersendiri, setelah perdebatan seputar pilpres soal isu identitas selesai,” ujar Wawan.

Topik klasik yang akan menjadi perdebatan, baik itu paslon di panggung debat maupun pendukungnya di media sosial, tidak ada jauh dari apa yang sudah dimulai. Pembiayaan infrastruktur dan hutang negara adalah sejumlah bahasan yang akan menjadi titik panas itu.

“Untuk pemilih yang belum memutuskan dukungan, ini menjadi panduan terakhir. Karenanya, ini pertaruhan betul. Kalau tidak clear paparannya, bisa bahaya. Harus jelas ekonomi yang dibangun, makro kebijakan yang akan dibangun. Akan dibawa ke mana secara ideologis, arah ekonomi Indonesia,” tambah Wawan.

Tiga Kartu Jokowi

Seperti juga di tempat-tempat lain, tiga rangkaian kartu masih menjadi salah satu program unggulan paslon Jokowi-Ma’ruf. Dalam kampanye di Kulonprogo, Yogyakarta, Minggu 7 Aprill 2019, Rudiantara dari Tim Kampanye Nasional (TKN) menjadikan tiga kartu itu jualan utama di panggung. Kartu-kartu ini diharapkan menjadi jawaban kebutuhan masyarakat, khususnya dalam soal ekonomi dan kesejahteraan sosial.

“Tiga tambahan kartu ini yang akan menjadi prioritas Bapak Jokowi dan Kyai Ma’ruf Amin. Sehingga urusan pintar,urusan sehat, dan urusan belanja masih tetap menjadi nomor satu,” kata Rudiantara yang juga Menteri Komunikasi dan Informatika.

Sejumlah kartu yang sudah diterbitkan pemerintahan Jokowi nampaknya memang menyasar kelompok usia muda, misalnya Kartu Indonesia Pintar (KIP). Kartu itu ke depan, kata Rudiantara akan dilanjutkan menjadi KIP Kuliah. Alasannya, agar generasi muda punya lebih besar kesempatan melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.

Rudiantara memamerkan keberhasilan kartu-kartu ini dalam turut mengatasi persoalan perekonomian rakyat sekaligus meningkatkan kesejahteraan. Kartu Indonesia Sehat telah banyak menolong, Kartu Indonesia Pintar menyasar lebih dari sepuluh juta anak sekolah. Kartu Sejahtera juga penuh manfaat, dan karena itu butuh ditingkatkan.

Tiga rangkaian kartu baru yang ditawarkan paslon 01 adalah KIP Kuliah, Kartu Sembako Murah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan terakhir Kartu Pra Kerja. Dengan Kartu Sembako Murah, Jokowi berharap kebutuhan bahan pokok dapat terpenuhi dengan mudah bagi kelompok masyarakat penerima manfaat. Sedangkan Kartu Pra Kerja adalah konsep pelatihan seusai pendidikan.

“Karena tantangannya, bekerja sekarang tidak hanya sekedar mengunakan ijazah tetapi juga ada ketrampilan. Apalagi kalau kita kaitkan perkembangan industri digital dan revolusi keempat,” jelasnya.

Pemeritah maunya, saat mereka bekerja punya keterampilan, bukanhanya pengetahuan. Lebih dipentingkan, dalam jangka pendek keterampilan untuk membuka lapangan pekerjaan,” kata Rudiantara.

Pada akhirnya, di sektor ekonomi dan kesejahteraan sosial, pemilih rasional akan menentukan apakah kinerja Jokowi dan janji perbaikan yang disampaikannya memuaskan. Atau di sisi lain, janji-janji program Prabowo dianggap lebih menarik simpati. Debat terakhir Sabtu akhir pekan ini akan menjadi penentu kemana kelompok pemilih ini mengarahkan pilihannya. [

Hits: 54

Comments

comments

Tinggalkan Komentar Anda