Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Mengenal Prosesi Jumat Agung, Ritual Sakral Umat Katolik Larantuka, Flores Timur


FLORES TIMUR,NUSANTARA7-Prosesi Jumat Agung di Larantuka merupakan ritual puncak dari Semana Santa. Semana Santa merupakan masa prapaskah yang didahului oleh masa puasa atau pekan suci. Pada ritual ini patung suci ( Tuan Ma) diarak keliling kota Larantuka.

Kepercayaan terhadap Tuan Ma berawal sejak lima ratusan tahun silam. Sejarah mencatat, patung Tuan Ma ditemukan sekitar tahun 1510 di pantai Larantuka, diduga patung tersebut dibawa oleh orang Portugis pada masa penjajahan dan misi penyebaran agama masa itu.

Pada mulanya, patung berwujud perempuan itu ditemukan oleh seorang anak bernama Resiona yang sedang mencari siput di pantai Larantuka. Resiona mengaku melihat perempuan cantik. Ketika ditanya nama dan dari mana asalnya, wanita itu tidak bersuara, lalu menulis tiga kata yang tak dipahami oleh Resiona di atas pasir, dan ketika Resiona hendak bertanya lagi, rupa wanita itu telah berubah wujud menjadi sebuah patung yang tingginya sekitar tiga meter.

Ketiga kata yang ditulis itu lalu dibuatkan pagar batu agar tidak terkikis air laut, sedangkan patung tersebut diarak keliling kampung kemudian disimpan di Korke (rumah adat).

Dalam keseharian patung tersebut dianggap sakral dan dihormati oleh raja dan penduduk Larantuka sehingga patung itu disebut Tuan Ma yang artinya tuan dan mama. Penduduk saat itu selalu menyembah dan memberi sesaji pada patung Tuan Ma sebagai tanda ucapan syukur atas hasil panen.

Misionaris Katolik Ungkap Asal Usul Patung

Patung Tuan Ma

Asal usul patung tersebut baru diketahui Padri dari Ordo Dominican datang ke Larantuka dalam misi penyebaran agama Katolik, lalu diminta untuk membaca tiga kata di pasir pantai yang diabadikan itu. Ketiga kata itu adalah “Renha Rosario Maria” (Ratu Renha Rosario). Ketiga kata itu sebenarnya adalah nama dari wanita yang telah menjelma menjadi patung tersebut.

Pada tahun 1617, misionaris Portugis Pastor Manuel de Kagas berhasil memberi pemahaman kepada raja Larantuka bahwa Tuan Ma yang dianggap sakral dan dihormati itu adalah Bunda Maria, Bunda yang melahirkan Yesus Kristus dan Yesus itu adalah dia yang menebus dosa manusia serta pembawa keselamatan.

Dari pemahaman itulah raja dan penduduk Larantuka yakin bahwa apa yang mereka hormati selama ini ternyata diakui secara universal.

Selanjutnya pada tahun 1650, raja Ola Ado Bala (raja ke 1 Larantuka) dibaptis menjadi Katolik dengan nama Don Francisco Diaz Viera de Godinho (DVG), dan menyerahkan tongkat kerajaan berkepala emas serta menyerahkan kerajaan Larantuka seutuhnya kepada Tuan Ma (Bunda Maria Reinha Rosario) dan pada saat itu kerajaan Larantuka resmi menjadi kerajaan Katolik.

Setelah itu pada tahun 1665, putra dari Don Francisco DVG, Don Gaspar DVG mulai mengarak patung Tuan Ma keliling Larantuka, selanjutnya pada tanggal 8 September 1886, Don Lorenzo DVG ( raja ke 10 Larantuka), bersumpah dan memberi gelar tertinggi kepada Tuan Ma sebagai Ratu kerajaan Larantuka.Patung Tuan Ma kini disimpan di Kapela Tuan Ma Larantuka.

Prosesi Ritual Suci Semana Santa


Prosesi Jumat Agung tanggal 19 April 2019,prosesi laut,mengarak patung Tuan Meninu (patung Yesus yang ada dalam peti),yang dimuat dalam perahu kayu (Bero)

Prosesi mengarak patung Tuan Ma telah menjadi tradisi turun temurun umat Katolik Larantuka sebagai puncak dari Semana Santa yang dilaksanakan setiap tahun pada hari raya Jumat Agung.

Don Andre Martinus DVG, yang adalah keturunan dari Raja Larantuka ditemui Nusantara7, Senin 15 April 2019, mengatakan Dalam ritual suci ini, keturunan raja Larantuka bermarga DVG (Diaz Viera de Godinho) mempunyai peran penting dalam mengatur tata pelaksanaan ritual ini. Salah satunya adalah “Kesumi”.

Kesumi merupakan kegiatan merias dan mengenakan jubah kebesaran pada patung Tuan Ma sebelum diarak keliling kota Larantuka. Selain itu keturunan DVG juga berperan sebagai Presidentil Abdi Bunda (Conferia) dan sebagai kepala dari semua suku suku Semana Santa.

Don Martinus DVG juga berharap kepada para generasi Gereja Katolik untuk menjaga dan melestarikan tradisi Devosi  peninggalan leluhur ini.

“Kepada generasi yang mengaku putra putri Renha Rosario ya harus mempunyai spiritualitas yang betul-betul tertanam dalam hati. Mari kita jaga kesakralan dan kekudusan ritual ini”. Kata Don Martinus DVG.

Prosesi Jumat Agung tanggal 19 April 2019 diawali dengan prosesi laut, dengan mengarak patung Tuan Meninu (patung Yesus yang ada dalam peti. Tuan Meninu dimuat dalam perahu kayu (Bero) dan diarak dari Kepela Tuan Meninu, Kota Rowido, Kelurahan Sarotari Tengah, menyusuri selat Gonzalu menuju ke pelabuhan pantai Kuce di Depan Kapela Tuan Ma Larantuka.

Setelah prosesi laut selesai, Prosesi darat pun dilaksanakan dengan mengarak patung Tuan Ma (Bunda Maria Reinha Rosario) keliling kota Larantuka.Rute prosesi ini dimulai dari gereja Katedral, kemudian terus mengitari delapan Armida, diiringi dengan doa doa, ratapan  lantunan lagu Ovos dan kembali berakhir di Gereja Katedral.

Tradisi ini kini menjadi wisata Religi Kabupaten Flores Timur. Pantauan media ini, banyak peziarah domestik maupun mancanegara yang datang mengikuti ritual ini. Para peziarah menggunakan momen ini untuk membawakan ujud doa serta meminta perlindungan dari Bunda Maria Reinha Rosario.

Hits: 77

Comments

comments

Tinggalkan Komentar Anda