Nelayan Muncar Keluhkan Hilangnya Ikan Lemuru, Komoditas Utama Perikanan Banyuwangi

Ikan lemuru, bahan utama industri ikan kalengan seperti sarden, menjadi unggulan Muncar, Banyuwangi (Foto: VOA/Petrus Riski

Banyuwangi,Jatim -Pelabuhan Perikanan Pantai Muncar di Kabupaten Banyuwangi merupakan salah satu penghasil ikan terbesar di Jawa Timur, dan nomor dua nasional. Ikan lemuru sebagai bahan baku ikan kalengan seperti sarden, merupakan komoditas utama yang menjadi unggulan Banyuwangi. Namun, saat ini produksi ikan lemuru hasil tangkapan nelayan Muncar menurun drastis, yang berdampak pada industri perikanan di Banyuwangi.

Banyuwangi,Jatim -Pelabuhan Perikanan Pantai Muncar di Kabupaten Banyuwangi merupakan salah satu penghasil ikan terbesar di Jawa Timur, dan nomor dua nasional. Ikan lemuru sebagai bahan baku ikan kalengan seperti sarden, merupakan komoditas utama yang menjadi unggulan Banyuwangi. Namun, saat ini produksi ikan lemuru hasil tangkapan nelayan Muncar menurun drastis, yang berdampak pada industri perikanan di Banyuwangi.


Ikan lemuru merupakan komoditas utama yang dihasilkan nelayan Muncar di Kabupaten Banyuwangi, yang memasok puluhan industri perikanan yang ada di Banyuwangi. Data dari UTP Pengujian Mutu dan Pengembangan Produk Kelautan dan Perikanan Muncar, Banyuwangi, produksi ikan lemuru pada tahun 2008 dan 2009, atau sepuluh tahun yang lalu mencapai rata-rata 27.833 ton. Angka itu turun drastis menjadi 1.651 ton pada tahun 2011. Meski sempat kembali meningkat sebanyak 10.267 ton pada tahun 2015, jumlah tangkapan ikan lemur terus menurun hingga mencapai 54 ton pada tahun 2017.

Sulitnya mendapatkan ikan lemuru, mengakibatkan harga lemuru di pasar ikan Muncar juga mengalami kenaikan. Padahal, saat jumlah tangkapan ikan lemuru sangat banyak, harga per kilogram ikan lemuru sangat murah di pasaran. Seperti yang diungkapkan Kusnan, pedagang ikan di pasar ikan Muncar.

“Kemarin-kemarin kan masih belum musim (lemuru) itu kan bisa sampai Rp. 20 ribu atau Rp. 17 ribu (per kilogram) lemuru, tapi mengecer, karena harga pabrik standarnya Rp. 15 ribu, itu paling mahal, lumayan harga ikan. Paling ini kalau musim-musim yang kemarin itu kan nelayan bisa dapat sampai 20 ton, sekarang paling banyak 5 ton (satu kapal),” kata Kusnan.

Kondisi memprihatinkan yang dirasakan pedagang ikan di Muncar, juga dirasakan nelayan dari Kelompok Usaha Bersama Nelayan Muncar, Basuki Broto Martono. Menurut Basuki, produksi ikan hasil tangkapan nelayan Muncar sempat menjadi unggulan hingga mampu menumbuhkan banyak industri perikanan di Kecamatan Muncar dan sekitarnya, seperti usaha pindangan, pengasinan, pengalengan ikan, penepungan, minyak ikan, cold storage, hingga usaha kecil menengah. Namun, kondisi saat ini berbanding terbalik dengan 10 tahun yang lalu, karena ikan lemuru semakin sulit didapatkan nelayan Muncar.

Beberapa jenis ikan laut yang dijual di pasar ikan Muncar, Banyuwangi. (Foto:VOA/Petrus Riski

Ukurannya, saking (sampai) berlebihnya, apa yang mereka sudah tangkap itu sampai dibuang lagi, karena begitu berlebih, semua pabrik, bahkan cold storage-cold storage yang murni cold storage, itu sudah tidak muat lagi menampung. Kalau sekarang ini ya betul-betul sangat menurun hasil tangkapannya, boleh dikatakan itu kalau ukurannya dari yang dulu, anggap seperti tidak ada. Kalau satu kali tangkap, kapasitas untuk palka (kapal) cold storage, itu mampu bisa 60 ton, kalau sekarang ini mungkin 12 ton sudah untung-untungan, 4 ton itu untung-untungan, itupun tidak mesti dalam satu kali mereka berangkat, mereka dapat (lemuru),” jelas Basuki Broto Martono.

Meski belum mengetahui penyebab pasti menghilangnya ikan lemuru di perairan Muncar hingga selat Bali, Basuki menduga faktor alam yakni perubahan iklim menjadi penyebab sulitnya mendapatkan ikan lemuru. Selain itu, sulitnya mendapatkan ikan lemuru menurut Basuki, juga dipengaruhi oleh keberadaan predator lemuru.

“Satu diantaranya adalah mamalia hiu, itu juga bagian predator lemuru, tapi itu kecil. Yang terbesar itu ada dua, diantara predator itu ada hiu, ubur-ubur, yang ketiga adalah layur. Jadi sampai-sampai ketika musim layur itu lagi banyak, jangan harap muncul lemuru.Demikian juga ubur-ubur lebih jahat lagi,” kata Basuki Broto Martono

Sementara itu, warga Muncar yang juga pemilik usaha perikanan, Dodik mengatakan, hilangnya ikan lemuru disebabkan oleh faktor kerusakan lingkungan. Limbah industri dari pabrik pengolahan ikan yang kurang memperhatikan keamanan lingkungan, diduga menjadi salah satu penyebab hilangnya ikan lemuru dari perairan Muncar.

“Utamanya ya (faktor) lingkungan. Di Muncar dulu pernah akan dibangun IPAL (instalasi pengolahan air limbah) secara menyeluruh se-Muncar itu dijadikan satu, ternyata ada penolakan. Tetapi pihak dinas lingkungan hidup mungkin, tidak mengontrol atau menstandarisasi pabrik-pabrik yang beroperasi di Muncar itu, tentang unit pengolahan limbahnya itu tidak dikontrol secara ketat, buktinya banyak sungai-sungai yang sangat kotor dan bau, sangat-sangat tercemar artinya, sehingga tidak mungkin ada kehidupan di sana, dan semuanya larinya ke laut. Beberapa tahun terakhir kan lemuru hilang bisa jadi karena, faktor utama ya lingkungan,” imbuhnya. Dodik berharap, pemerintah dan pelaku usaha perikanan bersama-sama memikirkan dan mencari solusi mengatasi persoalan ini, sehingga dapat segera dilakukan perbaikan dan pemulihan lingkungan agar ikan lemuru kembali berkembangbiak di perairan Muncar. “Segera dicari benang merah yang menyebabkan semua ini terjadi itu apa, mungkin dari lingkungan, alat tangkap, cara menangkap ikan segala macam itu harus segera dibenahi oleh pihak-pihak yang terkait dalam industri perikanan di Muncar. Eman (disayangkan) sekali kita mendapatkan proyek dari pusat itu pelabuhan yang sedemikian besar, tetapi sejatinya tidak akan pernah berguna karena kegiatan perikanan menjadi lesu,” jelas Basuki Broto Martono. [pr/ab)

Sumber : Voa Indonesia

Share

Hits: 31

Comments

comments

Berita Lainnya